-->
FkaTtGoWaoCAhuH4FEsIuU7rzVbSD7GG1WVSzEgy
Bookmark

BULLY

By Sydney ______________________

Suasana SMA Bintang Nusantara siang itu lembap dan jenuh. Bau kapur tulis, tubuh remaja berkeringat, dan aroma nasi bungkus campur parfum murahan menyatu di koridor yang ramai. Hanin, siswi kelas 12 IPS 3, berjalan santai bersama Alya menuju perpustakaan. Tawa mereka riang, memecah kesunyian lorong kelas yang sudah mulai kosong.

“Gue yakin buku ‘Kingdom of Cursed Crowns’ udah tersedia, Al! Kata Sisca kemaren dia liat,” ujar Hanin, matanya berbinar.

“Lo emang doyan bangeet sama fantasy, Rin. Dunia nyata aja berantakan, malah nyari yang lebih absurd,” goda Alya sambil mendorong pintu kaca perpustakaan yang berdecit.

Dingin AC langsung menyergap. Perpustakaan sekolah mereka memang istimewa, tak cuma rak buku tinggi, tapi ada area khusus “Fantasy Book” dengan pajangan pedang replika, globe dunia lain, dan bahkan miniatur naga yang matanya menyala merah kalau ada yang lewat. Area itu juga menjual aksesoris: jimat, kalung dengan rune aneh, dan buku mantra mainan. Tempat favorit Hanin.

“Gue janji sama lo, kita ketemu di sini jam 1 ya, Nin. Kita sekelas kok nanti,” kata Alya sambil merapikan jilbabnya. “Gue mau ke toilet dulu.”

“Siap, bos!” Hanin melambaikan tangan, lalu menghilang di antara rak-rak tinggi.

Dia mencari-cari buku seri terbaru itu. Rak fantasy penuh dengan sampul warna-warni, tapi judul yang dicari tak kunjung ditemui. Setengah jam berlalu, jam dinding menunjukkan pukul 12.45. Hanin mulai gelisah. Pelajaran berikutnya Geografi, dengan Bu Tenny, wanita berkacamata tebal yang bisa membuat siswa menangis hanya dengan tatapan. Telat lima menit saja berarti surat panggilan orang tua.

Dia akhirnya menyerah, mengambil buku “Geografi Regional” sebagai pinjaman darurat, lalu bergegas ke meja peminjaman. Saat itulah dia melihat Alya dari kejauhan sedang berbicara dengan seseorang di depan ruang guru. Hanin melambai, tapi Alya tidak melihat. Ah, mungkin dia masih santai, pikir Hanin. Katanya jam 1 ketemu di sini, kok masih di luar?

____

Tepat pukul 12.55, Hanin memutuskan menunggu di depan perpustakaan. Lima menit. Sepuluh menit. Alya tak kunjung muncul. Ini nggak seperti Alya, gumamnya. Pukul 1.05, jantungnya berdebar kencang. Udah telat!

Dia berbalik, siap lari ke kelas di ujung koridor lantai dua, ketika seseorang menepuk pundaknya.

“Hanin?”

Dia menoleh. Seorang siswi berjilbab rapi, dengan mata besar dan sedih, berdiri di sana. Namanya Syahla, siswi pindahan sebulan lalu yang selalu duduk di pojok, pendiam, dan sering jadi bahan bisikan.

“Iya? Maaf, gue buru-buru, Syahla.”

“Aku… aku nungguin kamu. Kata Alya tadi kamu butuh temen ke kelas Geografi, jadi aku nunggu di sini. Kelas kita kan sebelahan, IPS 3 sama IPS 2. Deket kok,” ujar Syahla dengan suara lembut, hampir tertelan suara AC.

Hanin melirik jam tangan. 1.07. Buru-buru banget nih orang, pikirnya kesal. “Aduh, gue kira Alya yang nunggu. Tapi gue telat nih, Bu Tenny galak banget.”

“Aku tungguin kamu dari tadi, Hanin. Bisa kita jalan bareng?” tanya Syahla, matanya memohon.

Tapi kepanikan sudah menyelimuti Hanin. Bayangan Bu Tenny dengan buku absen di tangan lebih menakutkan daripada rasa bersalah. “Maaf ya, Syah. Gue lari dulu. Ntar ketemu lagi!”

Dia berlari, tak menoleh. Buku Geografi terhimpit di ketiak, tas menjuntai. Dari kejauhan, dia mendengar suara Syahla memanggil namanya, tapi itu hanya seperti angin lalu.

____

Kelas Geografi berlangsung mencekam. Bu Tenny sudah mulai menjelaskan peta kontur ketika Hanin membuka pintu dengan terengah-engah. Tatapan dingin guru itu menyapu tubuhnya.

“Lima belas menit, Hanin. Catat. Duduk.”

Hanin mengangguk, malu. Dia melirik ke arah jendela yang menghadap koridor, dan melihat sesosok tubuh berjilbab berdiri di sana, Syahla. Dia hanya berdiri, menatap ke dalam kelas, lalu perlahan pergi. Ada yang pecah di dada Hanin: rasa bersalah yang tajam.

Sepanjang pelajaran, Hanin tak bisa konsentrasi. Saat bel istirahat berbunyi, dia bergegas mencari Syahla di kelas IPS 2. Tapi bangkunya kosong. Teman sekelas Syahla hanya mengangkat bahu saat ditanya.

“Dia tadi masuk, terus nangis. Abis itu pulang katanya,” ujar seorang siswi sambil memperbaiki lipstiknya.

Hanin merasa seperti ditampar. Dia kembali ke kelasnya, mencoba menyusun kata-kata permintaan maaf. Tapi pelajaran berikutnya dimulai dengan cepat, dan Bu Tenny masih ada di kelas karena jamnya beruntun.

Ketika Bu Tenny membagikan lembar soal, suara bisikan dan cekikikan tiba-tiba terdengar dari sudut kanan kelas. Hanin menoleh. Tiga siswi, Aul, Septi, dan Resti, kerap disebut “Triad” karena sikap mereka yang kejam dan popularitas semu sedang berkerumun di sekitar bangku paling belakang. Di sana duduk Syahla, menunduk, buku-bukunya berserakan di lantai.

“Eh, jilbab kok item banget sih? Kayak kain tiang bendera,” desis Aul, suaranya cukup keras untuk didengar setengah kelas.

“Mungkin nutupin jerawat se-leher,” timpal Septi, sambil mengambil pensil Syahla dan mematahkannya.

Syahla tidak bereaksi. Dia hanya menunduk lebih dalam, bahunya gemetar.

Bu Tenny, alih-alih menegur, malah berkata, “Fokus, anak-anak. Ini ujian.”

Hanin tak tahan. “Bu, mereka ganggu Syahla.”

Kelas hening sejenak. Semua mata tertuju padanya. Bu Tenny menghela napas. “Hanin, urusan pribadi diurus di luar. Lanjutkan soal nomor tiga.”

Tapi “Triad” itu malah semakin menjadi. Resti menarik ujung jilbab Syahla dengan kasar. “Diem aja lu, cupu. Nggak ada yang mau deket-deket sama orang aneh kayak lu.”

Syahla tercekik sesaat, sebelum jilbabnya terlepas. Rambutnya yang ikal sebahu terburai. Kelas meledak dengan tawa-tawa keras, tak terkendali, bahkan dari beberapa orang yang biasanya pendiam. Bu Tenny hanya menggeleng, seperti melihat hal biasa.

Hanin berdiri, kursinya berdecit keras. “BERHENTI! APA YANG SALAH DENGAN KALIAN?”

Tapi tawa itu terus bergulir. Aul mendorong kepala Syahla hingga membentur meja. “Dia yang salah, Hanin. Dia yang beda. Lihat matanya, kayak orang kesurupan.”

Syahla akhirnya bangkit. Dengan jilbab tergenggam, mata berkaca-kaca, dia berlari keluar kelas. Pintu terbanting.

Hanin memandang sekelilingnya, wajah-wajah yang tertawa, Bu Tenny yang pura-pura sibuk, “Triad” yang menyeringai puas. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah. Bukan hanya bullying biasa. Ada kegembiraan yang tidak wajar dalam kekejaman itu.

“Kalian monster,” bisik Hanin, suaranya parau.

“Lo yang lebay, Hanin. Orang jelek emang beda di sini. Nggak usah sok suci,” sahut Resti, lalu tertawa lagi.

Hanin keluar kelas, mencari Syahla. Tapi dia menghilang. Di koridor, beberapa siswa memandangnya aneh. Seorang guru lewat, bertanya apa terjadi, tapi Hanin hanya menggeleng. Dia merasa seperti berteriak dalam gelas.

____

Waktu Dzuhur tiba. Hanin berjalan ke mushola sekolah dengan langkah berat. Tapi sebelum sampai, dia melihat kerumunan di lapangan belakang, tempat sampah besar biasa dikosongkan. Suara tawa berderai, lebih keras dari tadi.

Dia mendekat. Yang dilihatnya membuat perutnya mual.

Tiga siswa, termasuk seorang anak laki-laki dari kelas 12 IPA yang sering diejek, berdiri di tengah lingkaran siswa lain. Mereka berlumuran kotoran manusia. Benar-benar kotoran. Ada yang menetes dari rambut, ada yang mengotori seragam. Bau menyengat menusuk hidung. Beberapa siswa lain mendorong mereka, ada yang mengambil foto dengan ponsel, tertawa terbahak-bahak.

“Mereka… buang air sembarangan lagi! Bau! Hahaha!” teriak seseorang.

Hanin membeku. Ini mimpi buruk. Dia menangkap pandangan seorang guru olahraga yang hanya berdiri di pinggir, tersenyum kecut, lalu berbalik pergi.

“HENDAK!” teriak Hanin, suaranya nyaris patah. “APA YANG KALIAN LAKUKAN?”

Seorang siswi memandangnya, senyum lebar tak wajar. “Ini normal, Hanin. Mereka emang suka kotor. Lihat aja, seneng sendiri tuh.”

Salah satu korban, seorang laki-laki kurus bernama Rian, menatap Hanin dengan mata kosong. Air mata bercampur kotoran di pipinya. Dia berbisik, “Tolong…”, sebelum didorong lagi hingga terjatuh ke tumpukan sampah.

Hanin berlari. Dia mencari Syahla. Instingnya berteriak bahwa Syahla juga dalam bahaya. Dia menuju mushola kecil di belakang sekolah, jarang dipakai, biasanya untuk tempat istirahat petugas kebun.

Pintunya setengah terbuka. Bau lagi tapi lebih busuk, lebih menusuk. Dia mendorongnya perlahan.

Syahla duduk di sajadah, dalam posisi tahiyat awal. Tapi tubuhnya… berlumuran kotoran yang sama. Lalat berkerumun di sekujurnya, hinggap di mata, mulut, telinga. Dia tidak bergerak. Benar-benar patung bernyawa.

“Syah… Syahla?” suara Hanin bergetar.

Syahla perlahan menoleh. Matanya kosong, tapi ada cahaya sisa kesadaran di dalamnya. Bibirnya komat-kamit.

“Hanin… jangan ikut campur.”

Suaranya datar, seolah datang dari jauh. Tapi di balik datarnya, ada getaran ketakutan yang dalam.

“Siapa… siapa yang melakukan ini? Aku bawa ke UKS-”

“JANGAN.” Syahla tiba-tiba menjerit kecil. “Mereka… mereka akan lebih parah. Ini bukan… bukan cuma bullying, Hanin. Ini… ritual. Mereka butuh kita kotor. Butuh kita terpecah.”

“Apa maksud-”

“Pergi. Sekarang.”

Hanin mundur, kakinya terhuyung. Dia berlari kembali ke kelas, darahnya mendidih. Dia masuk, menemui “Triad” dan lainnya yang sudah kembali, duduk rapi seolah tak terjadi apa-apa.

“APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA MEREKA?” pekik Hanin, air matanya meletus.

Aul memandangnya, senyum tipis di wajah cantiknya. “Mereka senang, Hanin. Mereka pilih sendiri jadi kotor. Dunia butuh keseimbangan yang cantik, yang jelek. Yang bersih, yang kotor.”

“ITU NGGAK NORMAL! KALIAN GILA!”

Septi tertawa. “Normal itu relatif, Rin. Di sini, kami yang tentukan normal.”

Hanin keluar lagi, dunia berputar. Dia tak pulang sekolah. Dia langsung menuju rumah, otaknya panas. Ada sesuatu yang jahat merasuk sekolahnya. Bukan sekadar kejahatan remaja, tapi sesuatu yang lebih tua, lebih gelap.

_____

Malamnya, Hanin mencari-cari informasi. Dia ingat omongan kakeknya dulu tentang “orang-orang yang berubah” di desanya. Akhirnya, melalui kenalan gelap, dia mendapatkan alamat seorang dukun di pinggir kota, namanya Mbah Kholis.

Rumahnya sempit, gelap, penuh dengan bau dupa dan benda-benda aneh. Mbah Kholis sendiri seorang lelaki tua dengan mata biru keruh, tetapi sorot matanya tajam.

“Kamu dari sekolah Bintang Nusantara,” katanya sebelum Hanin bicara. Bukan pertanyaan.

“Iya. Bagaimana-”

“Aku sudah merasa. Ada kabut hitam di sana. Bukan kabut bullying, nak. Itu sesuatu yang menyamar, memakan konflik, memperbesar kebencian remaja jadi… makanan.”

Hanin menceritakan semuanya, tentang Syahla, kotoran, tawa, tatapan kosong.

Mbah Kholis mendengarkan sambil merapal manik-manik hitam. Wajahnya semakin suram.

“Ini sekte,” akhirnya dia berkata. “Bukan sekte manusia. Tapi sekte makhluk antah-berantah yang suka dengan energi remaja yang labil. Mereka mengubah orang perlahan. Yang awalnya ikut-ikutan bullying, jadi senang menyakiti. Yang awalnya diam, jadi patung. Mereka memecah jiwa, lalu mengisi kekosongannya dengan… sesuatu.”

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Kamu tidak bisa sendirian. Mereka sudah banyak. Tapi… besok, aku akan datang ke sekolahmu. Aku sudah atur, aku akan jadi guru agama baru. Pak Kholis.”

Hanin terkejut. “Tapi-”

“Dengarkan. Aku akan lakukan ritual pengusiran. Tapi kau harus pegang tanganku erat-erat. Atau pegang teman yang masih suci, yang matanya masih hidup, masih ada rasa bersalah atau takut. Hafalkan ini.” Dia memberikan selembar kertas dengan ayat-ayat pendek. “Jangan berhenti membacanya. Jika terlepas, kamu akan mereka tarik. Dan lihat baik-baik saat ritual, yang sudah berubah matanya akan berbeda. Ada yang merah, putih susu, hitam pekat. Mereka akan berpura-pura ikut ritual, tapi bisikannya lain.”

“Mereka… bukan manusia lagi?”

“Mereka masih manusia. Tapi jiwanya sudah bersatu dengan iblis kecil, iblis yang suka pada kekacauan, kenajisan, dan keputusasaan. Mereka melihat dunia berbeda. Dan mereka ingin semua seperti mereka.”

Hanin menggigil. “Apa rencananya?”

“Aku akan kumpulkan mereka, beri pengaruh seolah-olah ini pelajaran akhlak. Lalu kita mulai. Kau harus kuat. Dan jika aku bilang lari… larilah. Jangan lihat belakang.”

____

Keesokan harinya, suasana sekolah tampak normal. Terlalu normal. Siswa-siswa yang kemarin berlumuran kotoran kini bersih, duduk di kelas dengan patuh. Syahla juga ada, di bangkunya, menatap meja. Tatapannya kosong, tapi ketika melihat Hanin, sebentar ada kedipan, seperti permohonan.

Hanin mencoba mengobrol dengan teman-teman sekelasnya. Tapi percakapan mereka datar, aneh.

“Eh, kata guru BK bakal ada guru agama baru,” ucap Raka, biasanya anak yang cerewet.

“Siapa?” tanya Hanin.

“Pak Kholis. Katanya mau datang hari ini.”

Juan berpura-pura tidak tahu. “Vjr, gimana dong? Gue gabawa buku PAI. Tau sendiri guru sebelumnya jarang pernah masuk.”

“Dah! Pertama kali masuk paling perkenalan doang,” sahut Alya, yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Alya tersenyum, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.

“Yang bener? Kok nggak ada pemberitahuan?”

“Gue denger di ruang guru, paling nanti Senin diumumin,” kata Hanin, pura-pura santai.

“Serem nggak?” tanya Alya.

“Enggak, malah adem katanya,” jawab Hanin, menirukan omongan siswa lain yang sempat dia dengar.

Jam pertama, guru agama benar-benar datang. Pak Kholis, berkemeja putih, bersarung, berpeci. Wajahnya sama seperti di rumah, tapi lebih bersih, lebih resmi. Dia memperkenalkan diri dengan suara berat.

“Saya Pak Kholis. Saya akan mengajar akidah dan akhlak. Karena akhlak, anak-anak, adalah pondasi.”

Beberapa siswa, termasuk “Triad”, saling pandang dan terkekeh. Seperti akhlak adalah lelucon bagi mereka.

Pak Kholis tidak marah. Dia tersenyum tipis. “Hari ini, kita akan praktik kecil. Mari kita membuat lingkaran. Pegang tangan kanan saya, dan pegang tangan kiri teman di samping kalian.”

Kelas terdiam sejenak, lalu dengan patuh mereka bergerak. Hanin mengambil tempat di sebelah kanan Pak Kholis. Tangannya menggenggam erat tangan tua itu. Dingin.

Pak Kholis mulai membacakan kalimat syahadat. “Laa ilaaha illallah…”

Beberapa siswa mengikutinya. Tapi Hanin memperhatikan, ada yang mulutnya komat-kamit dengan kalimat lain. Ada yang mendengkur keras, menggeleng-geleng. Matanya, ya, matanya! Aul matanya memutih seperti susu. Resti matanya merah darah. Septi matanya menghitam pekat, tanpa pupil.

Tapi yang lain seperti Syahla, Rian, beberapa anak pendiam, mata mereka normal, penuh ketakutan. Mereka melafalkan syahadat dengan sungguh-sungguh.

Ritual berlanjut. Pak Kholis meningkatkan tempo bacaannya. Ruangan terasa semakin dingin. Lampu neon berkedip-kedip.

Tiba-tiba, tangan kiri Hanin dicengkeram. Dia menoleh, seorang siswa laki-laki yang tak dikenalnya, dengan mata putih susu, tersenyum lebar tak wajar.

“Lanjutkan, Hanin,” bisiknya, tapi suaranya seperti banyak suara sekaligus.

Hanin berusaha tetap fokus, menggenggam lebih erat tangan Pak Kholis. Tapi tangan siswa itu kuat, menariknya perlahan.

Pak Kholis menatap Hanin, wajahnya tegang. “Jangan lepas!”

Tapi tekanan semakin besar. Siswa-siswa dengan mata aneh mulai berdiri, masih melafalkan sesuatu yang bukan syahadat. Suara mereka menyatu, jadi dengungan rendah yang menggetarkan kaca jendela.

“Aku… nggak sanggup, Pak!” teriak Hanin.

Pak Kholis melihat ke sekeliling. Lingkaran sudah rusak. Yang “terserang” semakin banyak. Bahkan beberapa guru yang lewat di koridor berhenti, menatap dengan mata yang sama, kosong, aneh.

“Ini bukan sekte biasa… ini terlalu kuat!” pekik Pak Kholis. “Mereka sudah menguasai separuh sekolah!”

Dia tiba-tiba melepaskan tangannya dari lingkaran. Hanin hampir terjatuh.

“TETAP BACA!” teriak Pak Kholis.

Hanin terus melafalkan ayat-ayat yang dihafalnya. Tapi siswa-siswa itu mendekat, mengelilinginya dan Pak Kholis. Senyum mereka seragam, menyeramkan.

“Lanjutkan ritualnya, Pak,” kata Aul, suaranya tidak seperti suaranya sendiri, dalam, bergema.

Mereka serentak membaca syahadat, tapi dengan nada mengejek, dipenggal-penggal. “Laa… ilaaha… illa… SYAITAN!”

Pak Kholis menarik lengan Hanin. “LARI! SEKARANG!”

Mereka menerobos lingkaran, lari ke koridor. Teriakan dan tawa mengejar mereka. Hanin melihat Syahla berdiri di tengah kerumunan, wajahnya bingung, tapi dia tidak ikut mengejar.

“HANIN!” teriak Syahla. Tapi Hanin sudah berlari. "Kamu cuekin aku lagi." Bisik Syahla kepada dirinya sendiri.

____

Mereka berlari ke halaman sekolah. Tapi yang mengejar bukan cuma teman sekelas, guru-guru, penjaga kantin, bahkan beberapa orang tua yang sedang menjemput, semua dengan tatapan mata aneh, mulai berjalan ke arah mereka. Perlahan, lalu semakin cepat.

“Jangan lihat! Lari ke gerbang!” teriak Pak Kholis.

Tapi gerbang sudah ditutup oleh petugas satpam yang matanya merah. Mereka berbelok, masuk ke gang kecil di samping sekolah. Gang itu gelap, bau sampah. Mereka bersembunyi di belakang tumpukan kardus.

“Mereka… mereka apa, Pak?” isak Hanin.

“Mereka terjangkit. Iblis kecil suka kerumunan, suka kebencian massal. Sekolahmu sudah jadi sarang. Aku salah hitung, aku kira hanya satu kelas.”

Suara langkah kaki mendekat. Banyak. Tertawa-tertawa kecil.

“Kita harus pisah. Kau cari tempat aman, baca ayat tadi terus. Aku akan coba pecah konsentrasi mereka dari tempat lain.”

“Tapi-”

“Jangan berargumen!” bisik Pak Kholis keras. “Pegang ini.” Dia memberikan sebuah jimat kecil. “Ini akan melindungi sementara. Tapi ingat, mereka akan berusaha membuatmu takut. Jangan menyerah pada ketakutan.”

Pak Kholis melompati pagar kecil, menghilang. Hanin sendiri. Dia merangkak lebih dalam, menemukan sebuah kandang ayam kosong yang bau. Dia masuk, menutup pintu kayu yang reyot.

Dia duduk, gemetar, melafalkan ayat. Di luar, suara langkah kaki berlalu. Sepi.

Tiba-tiba, dia mendengar suara kunyahan. Dari sudut kandang yang gelap, ada seorang siswa, dia mengenalinya, anak kelas 11 duduk memunggungi. Di tangannya seekor ayam hidup, dan dia menggigit leher ayam itu, mengunyah daging dan bulunya. Darah menetes.

Hanin menjerit.

Siswa itu menoleh. Matanya setengah putih, setengah merah. Mulutnya penuh darah dan bulu. Dia tersenyum.

“Lanjutin, yuk,” gumamnya, sambil berdiri dan melangkah mendekat. “Kan seru. Kita semua bisa… bersatu.”

Hanin membanting pintu kandang, lari keluar. Dia berlari tanpa arah, masuk ke permukiman. Tapi di setiap sudut, ada orang, ibu-ibu sedang menyapu, bapak-bapak jualan, semua menatapnya dengan senyum lembut, lalu mata mereka berubah ketika Hanin lewat. Mereka tidak mengejar, hanya tersenyum, seolah menikmati ketakutannya.

Dia sampai di rumahnya. Dia mengetuk pintu, berteriak. Tapi tidak ada jawaban. Jendela terkunci. Dia melihat ke dalam—keluarganya duduk di meja makan, tapi mereka tidak bergerak. Seperti patung. Matanya kosong.

Hanin menjerit histeris. Dia lari lagi. Kaki sudah lelah, jiwa sudah remuk. Dia sampai di jalan raya. Malam sudah larut. Lampu jalan menyorotnya.

Dari kejauhan, dia melihat mereka—seluruh kelas 12 IPS 3, plus banyak wajah lain dari sekolah berjalan perlahan ke arahnya. Tertawa. Melafalkan sesuatu.

Hanin mundur. Kakinya menyentuh tepi jalan. Dia menoleh ada sebuah truk bermuatan pasir melaju kencang.

Dia tersenyum getir. Lelah. Mungkin ini satu-satunya jalan keluar.

Dia melangkah ke depan.

BRAK!

____

Hanin terbangun di rumah sakit. Ibuku menangis di sampingnya. Dia selamat, tapi dengan cedera parah, tulang patah, memar di mana-mana. Dia bilang mengalami kecelakaan.

Tapi ketika dia kembali ke sekolah dua bulan kemudian, semuanya… normal. Aul, Septi, Resti masih ada, tapi mereka tidak lagi kejam hanya cuek. Syahla pindah sekolah. Bu Tenny pensiun. Pak Kholis tidak pernah terdengar lagi.

Apakah itu semua mimpi? Halusinasi karena stres?

Suatu siang, dia membersihkan lemari lama, menemukan tas sekolah yang dipakai saat kejadian. Di saku terselip selembar kertas usang, ayat-ayat yang diberikan Mbah Kholis. Dan jimat kecil itu.

Dia merenung. Lalu, di sore hari, dia membuka media sosial. Ada grup alumni SMA Bintang Nusantara. Seorang anggota memposting foto lama, foto kelas 12 IPS 3 saat upacara. Hanin memperbesar.

Dan di sana, di antara wajah-wajah yang tersenyum, dia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Di belakang mereka, di jendela kelas, ada bayangan-bayangan samar dengan mata merah pekat dan hitam, bau dan berat terasa. Ia tersenyum lebar.

Dan di kolom komentar, seseorang dengan nama samaran menulis: “Ritualnya belum selesai, Hanin. Kami tunggu.”

Hanin menatap layar, kedinginan. Di luar jendela kamarnya, dia melihat seorang tetangga, ibu yang biasanya ramah sedang menyiram tanaman. Ibu itu menoleh, tersenyum padanya.

Dan matanya, untuk sepersekian detik, memutih seperti susu.

- TAMAT -
Post a Comment

Post a Comment